Dunia jadi begitu gempar dan seolah ikut menangisi atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Perancis baru-baru ini. Hampir seluruh negara di dunia memasang simbol turut berduka dengan mengubah ikon-ikon negara mereka dengan warna bendera Perancis yaitu merah, putih dan biru. Ada yang mengubah warna gedung dengan cahaya, patung Yesus di Rio De Jenairo Brazil juga turut 'diwarnai' dengan warna bendera Perancis. Sebagian lagi mengubah profil picture facebook dan media sosial lain dengan foto mereka yang diwarnai warna-warna bendera Perancis.
Seperti telah diketahui, teror penembakan terjadi di Paris, Perancis pada Jum'at (13/11) yang telah menewaskan 129 orang dan 350 lainnya terluka. Gerakan yang mengatasnamakan Islam ISIS dinyatakan sebagai penanggungjawab tragedi tersebut. Negara-negara Eropa dan Amerika dengan segera menyatakan turut berduka dan mengutuk serangan tersebut.
Di satu sisi, kita memang sangat berduka dan mengecam keras perbuatan teror yang tidak berprikemaunisaan tersebut. Wajar jika hampir semua pemimpin negara-negara di dunia juga turut mengecam dan menunjukkan rasa simpati kepada Perancis dan seluruh korban pada insiden tersebut. Namun, adakah kita sempat terbersit dalam pikiran bahwa ada rasa 'cemburu' yang menusuk-nusuk dalam batin. Mengapa mereka begitu simpati, berduka, dan secara luas mengecam kebiadaban kekejaman yang terjadi di Paris. Tapi, tragedi-tragedi kemanusiaan yang terus menerus terjadi di negara-negara konfil seperti Pakistan, Palestina, Suriah, Mesir, Yordania, dan lain-lain tak pernah mereka gubris dan bahkan sengaja menutup mata.
Ini lah yang disebut dengan ironi. Mata hati manusia telah ditutup sebagian, dan dibuka untuk sebagian yang lain saja. Kemanusiaan seolah hanya untuk Barat, sedangkan di sana adalah hal biasa. Kematian bukan lah perkara besar, kepedihan bukan lah kepedulian mereka. Inilah dunia. Inilah bumi kita.
Duka untuk Perancis, dan duka mendalam untuk saudara-saudara muslim-ku di sana.
Show EmoticonHide Emoticon